contoh RPP matematika SMP kelas VIII

Sabtu, 19 Januari 2013

contoh proposal bahasa inggris



A.    Latar Belakang Masalah
          Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan oleh sebagian besar penduduk dunia. Sebagaimana pendapat wardhaugh, Ronald (1986:55), “Today, English is used in very many places and for very many purposes as a lingua franca, e.g. in travel and often in trade. “Artinya, bahasa inggris saat ini digunakan di berbagai daerah (di seluruh dunia) dan digunakan untuk berbagai tujuan, sebagai bahasa persatuan, contohnya dalam perjalanan dan perdagangan antar negara. Dengan bahasa Inggris, dua negara yang memiliki bahasa yang berbeda dapat melakukan transaksi ekonomi dengan mudah. Begitu pula dengan para mahasiswa yang semakin berkembangnya teknologi mereka dapat mengasah kemampuan bahasa ingris mereka atau mengembangkan profesi dalam media online (e-mail, facebook, twitter, yahoo messenger). Oleh karena itu , pelajaran Bahasa Inggris sangat penting diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Termasuk Indonesia.

        Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia ditekankan kepada penguasaan empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu listening, speaking, reading, writing.  Hal ini sejalan dengan fungsi dan tujuan bahasa Inggris sebagaimana tercantum dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris (2004:14),” … kemampuan berkomunikasi (dalam bahasa Inggris) meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). “ Keterampilan-keterampilan bahasa ini sangat penting dan saling mendukung satu sama lain. Keterampilan listening tidak akan berfungsi sempurna tanpa keterampilan speaking, reading, dan writing. Begitu juga dengan keterampilan writing akan kurang berarti tanpa ketiga keterampilan lainnya.
       Keterampilan writing dalam komunikasi memiliki peranan cukup penting dari tiga ketermpilan lain karena dengan kemampuan menulis , seseorang dapat menuangkan apa yang ada dalam pikiran melalui bentuk tulisan, dan itu dapat menjadi sebuah karya tulis yang dapat menghasilkan dan diterima oleh masyarakat. Tidak jarang sebuah perusahaan meminta  seorang pelamar kerja untuk menulis sebuah karangan cerita atau sebuah karya tulis sebagai syarat untuk bisa bekerja di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, kemampuan menulis dalam bahasa Inggris memiliki peranan cukup penting dalam dunia kerja.
         Pada umumnya, siswa di sekolah-sekolah menganggap sulit pelajaran bahasa Inggris terutama writing. Siswa biasanya mengalami kesulitan untuk menggunakan pola kalimat yang benar. Para siswa kurang memahami bentuk tenses apa yang harus digunakan. Selain itu, mereka juga tidak memiliki keberanian untuk menuliskan kata-kata dalam bentuk kalimat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya vocabulary yang dimiliki dan ketidakpahaman akan penyusunan kata-kata tersebut dengan pola yang tepat sesuai konteks kalimat yang akan ditulis.
         Kalimat bahasa Inggris memiliki pola-pola khusus yang dikenal dengan tenses. Tenses diperlukan untuk menentukan kapan kejadian dilaksanakan. Penggunaan Tenses yang tepat akan memperjelas suatu kalimat sehingga pembaca akan mudah memahami maksud penulis. Dengan demikian, tenses penting dipelajari untuk meningkatkan kemampuan menulis.
          Penguasaan tenses yang baik diduga akan berpengaruh terhadap kualitas writing seorang siswa karena selain menghasilkan tulisan yang benar dan bermakna juga akan menimbulkan rasa percaya diri siswa. Semakain baik penguasaan tenses siswa, maka akan semakin baik pula kualitas tulisan bahasa Inggris yang dibuatnya.
           Berdasarkan gambaran diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian berjudul, “The Correlation between Students’s Tenses Mastery and Their Writing Ability (A Correlational Study at  the eleventh Grade of SMAN 7 Tasikmalaya)”

B.     Rumusan Masalah
                        Berdasarkan permasalahan di atas, penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut, “Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan tenses siswa kelas XI SMAN 7 Tasikmalaya dan kemampuan mereka dalam menulis bahasa inggris?”

C.    Tujuan penelitian
          Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara penguasaan tenses siswa kelas XI SMAN 7 Tasikmalaya dan kemampuan mereka dalam menulis bahasa Inggris.
D.    Kegunaan Penelitian
          Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.      Keguanaan teoritis
Sebagai sumber informasi untuk peneliti selanjutnya.
2.      Keguanaan praktis
Member gambaran umum kepada guru bahasa Inggris khususnya tentang kemampuan siswa kelas XI SMAN 7 Tasikmalaya dalam mempelajari tenses serta kaitannya dengan keterampilan menulis.
3.      Kegunaan Empiris
Menambah pengalaman bagi penulis sendiri berkenaan dengan kemampuan meneliti dan kemampuan tenses juga writing.

      E.   Landasan Teoritis
      1)  Kemampuan Menulis Bahasa Inggris
            a.  Pengertian Kemampuan Menulis Bahasa Inggris
Terdapat beberpa pengertian menulis,
1)      Menurut Gould Eric, et.al  (1989:18) , “writing is a creative act, the act of writing is a creative because its requires to interpret or make sense of something : an experience, a text, an event. “Artinya Menulis adalah perilaku kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu : sebuah pengalaman, sebuah cerita,  sebuat peristiwa.
2)      Menurut Lado dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009 :5), “Meletakan symbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain.
3)      Menurut Taringan, Henry Guntur (1986:15), “Menuilis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. “


      Berdasarkan penjelasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa menulis adalah perilaku kreatif yang membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu : sebuah pengalaman, cerita, peristiwa untuk menuangkan ide/gagasan  dengan  menggunakan bahasa tulis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain sebagai media penyampai.   

      Sedangkan pengertian kemampuan secara umum berdasarkan Grolier International dictionary (1981:;). “Ability is the quality of being able to do something physical, mental, financial, or legal power to perform. “ Artinya kemampuan adalah kualitas untuk dapat melakukan sesuatu baik secara fisik, pikiran, financial, atau kekuatan untuk dipertunjukan.

      Dengan demikian, kemampuan menulis bahasa Inggris adalah sebuah kualitas perilaku kreatif yang membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu : sebuah pengalaman, cerita, peristiwa untuk menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis yang mewakili bahasa yang dimengerti oranglain sebagai media penyampai.

      Untuk dapat menuangkan serta menyampaikan ide, gagasan, dan persaan dengan tujuan untuk menggambarkan ide, gagasan, atau perasaan tersebut dalam bahasa tulis dibutuhkan pola, arahan dan tahapan tertentu. Sehingga dewasa ini di gunakan genre (ragam teks) sebagai salah satu teknik pembelajaran bahasa baik lisan maupun tulisan. Terdapat banyak ragam teks, antara lain descriptive, narrative, recount, anecdote, procedure dan report. Yang dimaksud kemampuan menulis ini adalah kemampuan menulis dalam writing story berbentuk teks naratif.

b. Teks Naratif
      Terdapat beberapa pengertian teks naratif,
1)      Menurut Taufik (2012:12).
   
    Narrative teks adalah teks yang berisi berupa cerita rakyat (folktale), cerita binatang (fable), legenda (legend), cerita pendek, dll). Di dalamnya terdapat konflik/puncak masalah yang di ikuti dengan penyelesaian. Fungsi utama teks ini adalah untuk menghibur pembaca.
2)      Berdasarkan Wikipedia (2012:12). “Narrative is a story that is created in a constructive format (as a work of writing, speech, poetry, prose, pictures, song, motion-pictures, video games, theatre or dance) that describes a sequence of fictional or non-fictional events. “ Artinya, naratif adalah sebuah cerita yang ditulis dalam sebuah format konstruktif sebagai karya tulis,lisan, puisi, prosa, gambar, lagu, gambar bergerak, permainan, teater atau tarian, yang menggambarkan seial kejadian cerita fiktif atau non-fiktif.
Berdasarkan pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa teks naratif merupakan teks yang menceritakan sebuah kisah atau dongeng, dapat berupa cerita rakyat, cerita binatang, legenda, atau cerita pendek yang di dalamnya menggambarkan, serial kejadian baik fiktif maupun non-fiktif, dan memiliki fungsi untuk menghibur.

        Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan menulis bahasa Inggris dalam penelitian ini adalah kualitas perilaku kreatif yang membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu : sebuah pengalaman, cerita, peristiwa untuk menuangkan ide, gagasan, perasaan dengan menggunakan bahasa tulis yang mewakili bahasa yang dapat dimengerti oranglain dengan tujuan menuangkan ide, gagasan, perasaan tersebut yang diwujudkan dalam menulis kembali sebuah kisah atau dongeng.
2.    Penguasaan Tenses
       a.  Pengertian Tenses
                         Terdapat beberapa pengertian mengenai tenses,
1)      Menurut Honby, A. S. (1975:78),
Tenses may indicate whether an action, activity, or state is past, present, or future.      Tenses may also indicate whether an action, activity, or state is, was, or will be complete, or whether it is, was, or will be progress over a period of time.
Artinya, tenses dapat menunjukan apakah suatu kejadian , aktivitas, atau pernyataan dilakukan di masa lampau , kini, atau akanan. Tenses juga dapat menandakan apakah suatu kejadian, aktivitas, atau pernyataan sedang dilakukan, telah, atau akan berlangsung selama periode tertentu.
2)      Menurut erichsen, Gerald (2010:1),
Tense is a verb form that indicates, or can indicate, a relationship between the time the action in a verb occurs and the time the verb is uttered. A verb tense can also give an indication of the duration of the verb’s action and when or if it is completed.
Artinya, tenses adalah sebuah bentuk kata kerja yang menandakan atau dapat menandakan suatu hubungan antara waktu saat suatu kejadian berlangsung dan waktu saat kejadian itu di ceritakan. Sebuah kata kerja tense juga dapa memberikan petunjuk lamanya tindakan dilakukan dan kapan tindakan tersebut selesai.
3)      Menurut Stanley seperti dikutip oleh hariani, siti (2010:1), “tense is a verb tense indicates the relationship between an action or state of being and the passage of time…” Artinya, tenses adalah bentuk kata kerja yang menunjukan waktu dan menandakan hubungan suatu kejadian atau pernyataan dari suatu kejadian dengan waktu yang telah lalu.
        Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa tense adalah bentuk –bentuk kata kerja dalam bahasa ingris yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan, dihubungkan dengan waktu saat kejadian atau perbuatan itu diceritakan.
        Sedangkan pengertian penguasaan, “Mastery is possession of consummate skill “. (The Grolier International Dictionary, 1981:804). “Artinya, penguasaan adalah kepemilikan akan suatu keterampilan.
         Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penguasaan tenses yaitu kepemilikan keterampilan dalam hal perubahan bentuk-bentuk kata kerja dalam bahasa inggris yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan, dihubungkan dengan waktu saat kejadian atau perbuatan itu diceritakan.


      b. Jenis-jenis Tenses
                     Terdapat beberapa anggapan berbeda mengenai jenis-jenis tenses.
          Berikut adalah 16 jenis tenses yang penulis rangkum dari beberpa sumber :

a)      Simple Present Tense
b)      Present Continous Tense
c)      Present Perfect Tense
d)      Present Perfect Continous Tense
e)      Simple Past Tense
f)        Past Continous Tense
g)      Past Perfect Tense
h)      Past Perfect Continous Tense
i)        Present Future Tense
j)        Future Continous Tense
k)      Future Perfect Tense
l)        Future Perfect Continous Tense
m)    Past Future Tense
n)      Past Future Continous Tense
o)      Past Future Perfect Tense
p)      Past future Perfect Continous Tense
   
        Dalam penelitian ini, tenses yang dibahas hanya yang diajarkan di tingkat SMA dan yang berkaitan dengan teks naratif yaitu Simple Past Tense, Past Continous Tense, dan Past Perfect Tense.

c.  Simple Past Tense
                Terdapat beberapa pengertian mengenai simple past tense,
1)      Menurut Murphy, Raymond (1990:22), “We use the past simple to talk about action or situation in the past.” Artinya, kita menggunakan simple past tense untuk menceritakn kejadian atau keadaan masa lampau.
2)      Menurut Wiliting (1981:18), “The simple past tense represents an action state as belonging to time wholly past. “ Artinya, simple past tense menunjukan suatu kejadian yang dilakukan atau yang terjadi pada waktu lampau dan sudah tidak ada hubungannya dengan waktu sekarang.
     
      Penulis menyimpulkan bahwa simple past tense adalah salah satu jenis tense yang digunakan untuk menceritakan keadaan atau kejadian di masa lampau.
d. Past Continous Tense
              Terdapat pengertian past continous tense menurut para ahli,
1)      Menurut Hornby, A. S. (1975:86), “To indicate that an activity or state was continuing at the time when another activity occurred. The past progressive  Tense may be used. “ Artinya, untuk menunjukan bahwa suatu kejadian atau pernyataan sedang berlangsung pada waktu kegiatan lain terjadi, dapat digunakan  past progressive tense (past continous tense).
2)      Menurut Komara, U. (2002:24), “Past continous tense is frequently used to indicate that an action was in progress at a definte time in the past. “ Artinya, past continous tense sering digunakan untuk menandakan bahwa suatu kejadian sedang berlangsung pada waktu tertentu dimasa lampau.
       
       Berdasarkan pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa past continous tense adalah satu bentuk tenses yang dapat digunakan untuk menceritakan kejadian yang sedang berlangsung dimasa lampau atau untuk menunjukan suatu kejadian sedang berlangsung pada waktu kegiatan lain terjadi.
e.  Past Perfect Tense
            Beberapa pengertian mengenai Past perfect tense adalah sebagai berikut,
1)      Menurut Allen, W. Stannard (1974:137).
The Past Perfect Tense is related to a moment in the past in the same way that the present perfect is related to the present moment. i.e. it describes an action completed before some special past moment we have in mind.
Artinya, Past perfect tense erat kaitannya dengan kejadian masa lampau, seperti present perfect tense erat kaitannya dengan kejadian pada saat sekarang, past perfect tense menggambarkan peristiwa yang telah selesai dilakukan dimasa lampau yang tersimpan dalam pikiran kita.
2)      Menurut Murphy, Raymond(1990:44). “ We use the past perfect to say that something had already happened before this time. “ Artinya, kita menggunakan past perfect untuk menceritakan bahwa sutu peristiwa telah selesai dilakukan sebelum saat ini tiba.
     
         Penulis menyimpulkan bahwa past perfect tense adalah salah satu bentuk tenses yang digunakan untuk menceritakan peristiwa yang telah selesai dilakukan di masa lampau yang tersimpan dalam pikiran kita dengan tidak ada hubungannya dengan masa sekarang.
3. Hubungan antara penguasaan Tenses dan Kemampuan menulis Bahasa Inggris
                Tenses adalah bentuk kata kerja dalam bahasa inggris yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan, dihubungkan dengan waktu saat kejadian atau perbuatan itu diceritakan. Penguasaan tenses berarti kepemilikan keterampilan dalam hal perubahan bentuk-bentuk kata kerja dalam bahasa inggris yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan, dihubungkan dengan waktu saat kejadian atau perbuatan itu diceritakan.
            Menulis adalah perilaku kreatif yang membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu : sebuah pengalaman, cerita, peristiwa untuk menuangkan ide, gagasan, perasaan  dengan menggunakan bahasa tulis yang mewakili bahasa yang dapat dimengerti orang lain
              Untuk dapat menuangkan dan menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan lewat tulisan dibutuhkan pola, arahan, dan tahapan tertentu. Salahsatu teknik yang digunakan adalah penggunaan genre dalam pembelajaran bahasa termasuk pembelajaran menulis bahasa Inggris.
         Menolong naratif, sebagai salah satu perwujudan pembelajaran menulis bahasa Inggris, berarti menuliskan sebuah kisah atau dongeng, dapat berupa cerita rakyat, cerita binatang, legenda, atau cerita pendek yang didalamnya menggambarkan serial kejadian baik fiktif maupun non-fiktif, dan memiliki fungsi untuk menghibur.
         Menuliskan kisah atau dongeng artinya menuliskan kejadian yang telah lalu. Oleh karena itu, naratif berkaitan dengan past tense yang terbagi menjadi simple past tense, past continous tense, past perfect tense, past perfect continous tense dan past future tense.
      
        Dari penjelaan diatas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis bahasa Inggris memerlukan penguasaan tenses. Lebih khusus, kemampuan menulis cerita naratif teks memerlukan penguasaan past tenses.
Writing without knowing the tenses is laming, and tense without practicing is nothing.

4.      Penelitian yang Relevan
      Penelitian ini relevan dengan skripsi yang ditulis oleh Gunarti, Irma (2010) yang berjudul “The Correlation Between The Students’ Tenses Mastery and Their Speaking Ability ( A case study at the The Eleventh Grade of SMAN7 Tasikmalaya). “


       F.  Kerangka Berpikir
           Keterampilan menulis bahasa Inggris adalah sebuah kualitas perilaku kreatif yang membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu : sebuah pengalaman, cerita, peristiwa untuk menuangkan ide, gagasan dalam bentuk bahasa tulis yang mewakili bahasa yang dapat dimengerti orang lain. Menuliskan dongeng atau pengalaman sebagai suatu perwujudan interaksi, dalam genre (ragam teks) termasuk teks naratif, Menolong naratif berarti menuliskan sebuah kisah atau dongeng, dapat berupa cerita rakyat, cerita binatang, legenda, atau cerita pendek yang di dalamnya menggambarkan serial kejadian baik fiktif maupun non-fiktif, dan memiliki fungsi untuk menghibur.
             Penguasaan tenses berarti penguasaan keterampilan tentang perubahan bentuk-bentuk kata kerja dalam bahasa Inggris yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan, dihubungkan dengan waktu saat kejadian atau perbuatan itu diceritakan. Jika suatu perbuatan dilakukan dimasa lampau, jenis tenses yang digunakan adalah bentuk past tense.
          Menuliskan kisah atau dongeng artinya menuliskan kejadian yang telah lalu. Oleh karena itu, naratif berkaitan erat dengan past tenses.
         Dari penjelasan diatas, penulis menduga bahwa kemampuan menulis bahasa Inggris memerlukan penguasaan tenses. Lebih khusus, kemampuan menulis naratif teks memerlukan penguasaan past tenses.

         G.  Definisi operasional
          Untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengartikan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, penulis menjelaskan beberapa definisi operasional penelitian yang berkaitan dengan judul, diantaranya adalah :
1.      Students’ Writing Ability          :  Kualitas kreatif siswa untuk dapat menulis terutama dalam menuangkan /menyampaikan ide, gagasan, perasaan dan pikiran dengan tujuan untuk menggambarkan ide, gagasan, perasaan tersebut dalam bentuk bahasa tulis yang diwujudkan dalam writing story yang di miliki oleh siswa kelas XI SMAN 7 Tasikmalaya tahun pelajaran 2011-2012 . Data diperoleh dari hasil tes yang diberikan oleh penulis.

2.      Students’ Tenses Mastery        :Keterampilan yang dimiliki oleh siswa kelas XI SMAN 7   Tasikmalaya tahun pelajaran 2011-2012 tentang perubahan bentuk-bentuk kata kerja dalam bahasa Inggris yang menunjukan suatu kejadian atau perbuatan, dihubungkan dengan waktu saat kejadian atau perbuatan itu diceritakan. Dalam penelitin ini, tenses yang dibahas adalah simple past tense, past continous tense, dan past perfect tense. Data diberikan dari hasil tes yang diberikan.



       H.  Hipotesis
          Hipotesis penelitian ini, terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan tenses siswa kelas XI SMAN 7 Tasikmalaya dan kemampuan mereka dalam menulis bahasa Inggris.


I.       Prosedur Penelitian
1.      Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penguasaan tenses siswa dan kemampuan menulis bahasa Inggris mereka. Apabila ada, selanjutnya dicari berapa kekuatan hubungan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini mengguanakan metode deskriptip korelasional. Menurut Ruseffendi, E. T. (2005:34), “Penelitian korelasional adalah penelitian yang berusaha untuk melihat apakah antara dua variable atau lebih terdapat hubungan atau tidak. Dan bila ada, berapa kekuatan hubungan itu.”
2.      Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variable yaitu,
a.       Variabel bebas (variabel X)           : Penguasaan tenses siswa.
b.      Variabel terikat (variable Y)         : kemampuan menulis bahasa Inggris siswa.
    
3.      Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini akan mengukur kemampuan tenses dan kemahiran menulis siswa sehingga penelitian ini menggunakan tes sebagai teknik pengumpulan data. Menurut Arikunto, Suharsimi (2006:150), “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. “ Dalam penelitian ini, tes yang diberikan dikelompokan menjadi dua jenis yaitu tes tentang tenses yang dimaksudkan untuk mengeahui penguasaan tenses siswa dan tes writing yang dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan siswa menulis bahasa Inggris.
4.      Instrumen Penelitian
          Instrumen penelitian ini menggunakan tes. Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui penguasaan tenses siswa yaitu mengenai penguasaan simple past tense, past continous tense, dan past perfect tense. Tes dibuat dalam bentuk objektiv tes yaitu multiple choice. Selain itu, untuk mengetahui kemampuan menulis siswa, penulis melakukan writing test menggunakan…………
         Sebelum tes mengenai tenses diberikan kepada kelas sampel, penulis melakukan uji validitas dan uji realibitas instrumen.
a.       Validitas Butir Soal
          Dalam penelitian ini, sebelum instrument (tes objektif) diberikan kepada sampel, terlebih dahulu diuji validitasnya. Menurut Best, John W. (1981;!97), “ A test is valid to the extend that is measures what it claims to measure. “ Artinya, suatu tes dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang hendak diukur.
         Untuk mengetahui validitas dari tiap butir soal, penulis menggunakan rumus Pearson Product Moment Correlation yaitukorelasi yang dianggap paling kuat karena memiliki tingkat kesalahan paling kecil. Adapun rumus tersebut diatas adalah sebagai berikut:
 




Keterangan:
r                  = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N                 = banyaknya sampel
              = jumlah nilai siswa yang menjawab dengan benar
              = jumlah semua nilai siswa.
           = jumlah perkalian X dan Y
(Arikunto, Suharsini, 2006:72)

b.      Realibitas Butir Soal
        Suatu tes baik, selain valid, juga memiliki realibitas tinggi. Maka, setelah instrumen (tes objektif) dinyatakan valid, selanjutnya instrumen harus diuji dari segi realibitas. Dalam bukunya, Best, John W. (1981:199) menyatakan, “ A test is reliable to the extent that it measures consistently, from one time to another. “ Artinya, suatu tes dikatakan reliable jika mampu mengukur dengan hasil yang tetap dalam waktu yang berbeda. Untuk melakukan uji realibitas, penulis menggunakan rumus K-R 20, seperti:



Keterangan:
   = reliabilitas tes secara keseluruhan
     = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
     = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p)
= jumlah hasil perkalian antara p dan q
     = banyaknya item
     = standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians)
(Arikunto, Suharsini, 2006:100)

5.      Populasi dan Sampel
         Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 7 Tasikmalaya tahun pelajaran 2011-2012 yang terdiri dari 6 kelas, berjumlah 236 siswa.
         Untuk mengambil sampel dari populasi tersebut, penulis menggunakan cluster random sampling technique yaitu pengambilan sampel secara acak berdasarkan kelas sehingga ditentukan siswa kelas XIS1 yang berjumlah 39 siswa sebagai sampel dari penelitian ini.


6.      Langkah-langkah Penelitian
         Penelitian ini melalui beberapa langkah sebagai berikut :
a.       Menentukan rumusan masalah dan tujun penelitian;
b.      Merumuskan hipotesis penlitian;
c.       Menentukan populasi dan sampel;
d.      Membuat instrumen penelitian;
e.       Melakukan uji validitas dan reliabitas dengan memberikan tes kepada siswa non sampel ;
f.       Memberikan tes kepada kelompok sampel;
g.      Menganalisis data hasil tes;
h.      Pengujian hipotesis;
i.        Menyusun kesimpulan.



7.      Teknik Pengolahan dan Analisis Data
          Dalam pengolahan data dan analisis data, penulis menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment Correlation untuk mengetahui hubungan antara dua variable, yaitu sebagai berikut:


 



Keterangan:
r                = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N              = banyaknya sampel
           = jumlah nilai siswa yang menjawab dengan benar
           = jumlah semua nilai siswa.
(Nugraha, Endi, 1993:77)

8.      Waktu dan Tempat Penelitian
          Penelitian ini dilaksanakan pada bulan mei 2012, bertempat di SMAN 7 Tasikmalaaya.

        






     





  
      



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar